Cerita Persahabatan di München

Aku dan Bien menghabiskan waktu kira-kira 4 jam di kereta. Melewati gunung, ladang padi yang sudah kering, sampai kota perindustrian. 

Jum’at, 28 Juli 2017, keberangkatan kami dari Darmstadt ke München. Jangan bingung dengan München dan Munich, karena keduanya sama, hanya yang satu Bahasa Jerman, yang satu Bahasa Inggris. 

31 Juli 2017, aku tidak akan hanya menulis tentang; tempat-tempat yang kita kunjungi, rekomendasi, atau travel guideseperti yang biasa aku tulis, tapi juga, aku ingin sharing tentang behind the scenes nya, dimana aku dan Bien bertemu lagi dengan dua dari teman-teman sekolah terdekat kita. Mungkin mulai dari post ini aku ingin menulis, bukan hanya untuk berbagi informasi-informasi dan tips lainnya, tapi juga ini adalah sebagai bentuk apresiasiku, sebagai hal yang menunjukan bahwa aku bersyukur atas teman-teman atau keluarga atau orang-orang disekitarku. Cheesy untuk mereka, pasti. canggung, tapi aku memang lebih bisa mengekspresikan emosi lewat tulisan atau gambar. 

Kembali lagi ke perjalanan aku dan Bien yang masih di kereta IC (kereta cepat di Jerman) menunggu arrivalkita. Stasiun yang kita tuju adalah Burgau (Schwab) Bahnhof. Burgau adalah kota kecil yang terletak di Provinsi Bayernatau Bavaria, Jerman. Disana, teman kita, Brian, yang menampung kita selama 3 hari. Karena dia ada waktu longgar dan kebetulan flatnya cukup besar, dia mampu menampung kami berdua. 

Saat itu, untuk ke Burgau, kita harus ganti kereta di kota Ulm, untuk ganti kereta yang regional, dalam arti, tidak ada kereta cepat seperti ICE, IC lewat stasiun Burgau. Permasalah paling terkenal dalam kalangan travelerlalulah muncul, delay. Kereta kami, yang dari Heidelberg ke Ulm, mengalami keterlambatan selama 20 menit, yang which is untuk orang sini (termasuk kita :p) udah parah. Karena di Ulm, kita harus ganti kereta lagi, yang durasi pergantiannya hanya 13 menit. Terlambat lah kita. Akibatnya, kita harus menunggu kereta selanjutnya ke Burgau, yang datang sejam kemudian. Akibatnya, Brian harus menunggu kita di stasiun Burgau selama sejam lebih. Dan akhirnya, daripada bosan menunggu di stasiun kereta Ulm, kita jelajahi pusat kotanya, yang kebetulan dekat dengan Hauptbahnhofnya.

Mun1 Kopie.jpg

Satu jam berlalu, kaki dan pundak mulai pegel, dan akhirnya kita melanjutkan perjalanan kita ke Burgau. Sawah dan ladang padi terlihat beberapa kali dari jendela kami, lalu sampailah kami di Burgau. Brian, dengan kemeja birunya, duduk menunggu aku dan Bien, di satu-satunya tempat duduk yang ada di stasiun tersebut. Kami bertiga menyambut satu sama lain dengan hangat setelah setahun sampai dua tahun lebih tidak bertemu. 

mun4.jpg

Sisa dari hari Jum’at, kita habiskan dengan full beristirahat di tempatnya Brian, sambil bercerita banyak hal.

Mungkin untuk kita bertiga, yang memang di Indonesia dibesarkan di kota besar, Kota Burgau tidak termasuk pilihan kami untuk tinggal, hihi. Tapi bukan berarti, kita tidak menyukainya. Kotanya kalau mau diterapkan di generasi sekarang, kotanya Instagram-able. Bangunan di pusat kotanya berwarna-warna pastel,kemudian gereja terbesarnya bewarna pink, bahkan rumahnya Brian warnanya Pastel Dandellion.

munneu1.jpg

Hari berikutnya, kita bertiga bergegas ke kota München. Kita membeli namanya Bayern Ticket, yang berlaku seharian untuk seluruh Provinsi Bayern, dengan harga 37€, untuk bertiga. Berarti satu orang bayar sekitar 12 €. Perjalanan dari Burgau ke München memakan waktu 1 setengah jam pakai Regional Train. 

Sesampai di München Hauptbahnhof (Stasiun Pusat Munich), kita bertemu dengan Daniel, teman SMA kita satu lagi. Dia lah yang menjadi tour guide kita selama kita di München. 

mun10 Kopie.jpg

Kita bertiga pun mulai menjelajahi München, mulai dari pusat belanjanya, Marienplatz, dimana kalau kalian googling München, pasti munculnya gambarnya Marienplatz.Kemudian, kita lihat kampusnya Daniel sebentar, sambil bercerita suka-duka masing-masing di kampus masing-masing juga. Kita keliling Englischer Garten, taman besar dimana orang sini pada berjemur sambil piknik, sampai kita akhirnya ingin deposit perut. Dan ini semua, kita jangkau dengan jalan kaki dari stasiun kereta Marienplatz, (2-3 stasiun dari Hauptbahnhof).

mun14.jpg

Destinasi makan siang kita cukup jauh, karena kita harus naik U-Bahn sampai beberapa stasiun. Kita makan di salah satu pusat belanja juga yang berbentuk mall, namanya Olympia-Einkaufszentrum. Setelah isi bensin, kita kembali lagi ke Marienplatzuntuk belanja oleh-oleh, karena Brian akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat. 

Hari terlihat mulai gelap, akhirnya kita datangi café untuk istirahat. Disitu, kita kembali lagi bercerita-cerita suka-duka kita selama hidup di negara asing, bernostalgia masa SMA kita, dsb. Banyak hal yang kita tidak pernah bayangkan sebelumnya terjadi. Banyak hal yang kita pelajari dengan hidup mandiri di Jerman. Banyak hal buruk juga yang kita alami sendiri, dan kita lalui dengan baik. Seperti kata semua Youtuber Indonesia yang merantau di negara asing, „Kuliah di luar negeri tidak gampang; hidup di luar negeri tidak gampang“ . Terserah seberapa banyak uang yang kamu punya, pasti akan mengalami hal-hal yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Namun darisitu lah, kita belajar. Kita belajar mandiri, kita belajar agar lebih disiplin. Banyak hal yang kita dapati yang jauh berbeda, dari ketika kita berada di tanah air. 

Memang, kita tidak mengunjungi banyak tempat, tetapi, sekalian belum pernah ke München juga sebelumnya, kita memang ingin menghabiskan waktu bersama kedua sahabat kita. 




Nadine Roza Saraswati